No ratings yet.

Banyak bisnis kesulitan menjangkau audiens yang benar-benar relevan dengan pesan marketingnya. Alhasil, biaya promosi membengkak tanpa konversi yang berarti. Itulah masalah utama yang dipecahkan oleh behavioral targeting.

Behavioral targeting adalah pendekatan pemasaran yang menyesuaikan pesan atau iklan berdasarkan perilaku pengguna, seperti riwayat pencarian, halaman yang dikunjungi, hingga waktu interaksi. Dengan memahami pola perilaku tersebut, bisnis dapat menampilkan konten yang lebih personal dan tepat sasaran.

Teknik ini bukan hanya meningkatkan efektivitas kampanye, tapi juga memperkuat pengalaman pelanggan secara keseluruhan. Mari bahas bagaimana konsep ini bekerja, contohnya, dan cara menentukan strategi behavioral targeting yang efektif.

Apa Itu Behavioral Targeting?

Behavioral targeting adalah strategi marketing online yang menggunakan data perilaku pengguna untuk menampilkan iklan atau konten relevan. Data ini dikumpulkan dari berbagai aktivitas online, seperti situs yang dikunjungi, produk yang diklik, hingga durasi interaksi. 

Berbeda dari demographic targeting yang berfokus pada usia atau lokasi, behavioral targeting menggali apa yang benar-benar diminati pengguna berdasarkan. Contohnya, jika seseorang sering mencari “sepatu lari,” sistem akan menampilkan iklan produk olahraga di berbagai platform yang ia kunjungi. 

Pendekatan ini membuat pesan promosi lebih personal, relevan, dan efisien. Lewat analisis perilaku yang tepat, bisnis dapat meningkatkan click-through rate (CTR), memperkuat loyalitas pelanggan, dan tentu saja, memperbesar peluang konversi tanpa membuang anggaran untuk audiens yang tidak tertarik.

Komponen dan Tahapan Behavioral Targeting

Berikut adalah beberapa komponen utama dan tahapan proses dalam strategi behavioral targeting yang efektif:

  • Pengumpulan Data (Data Collection): Mengumpulkan informasi perilaku pengguna melalui cookies, pixel tracking, atau aktivitas login di website dan aplikasi.
  • Segmentasi Audiens (Audience Segmentation): Mengelompokkan pengguna berdasarkan perilaku serupa, seperti kebiasaan belanja, minat, atau frekuensi kunjungan.
  • Analisis Data (Data Analysis): Menggunakan algoritma atau tools analitik untuk memahami pola dan tren perilaku pelanggan secara mendalam.
  • Pembuatan Konten yang Relevan (Content Personalization): Menyusun pesan atau iklan yang disesuaikan dengan minat dan kebutuhan tiap segmen audiens.
  • Pengujian & Optimalisasi (Testing & Optimization): Melakukan A/B testing untuk melihat performa kampanye dan mengoptimalkan hasil berdasarkan data aktual.

Keunggulan dari Behavioral Targeting

Strategi behavioral targeting menjadi salah satu pendekatan paling efektif dalam dunia digital marketing modern karena kemampuannya memahami perilaku pengguna secara mendalam. Dibandingkan metode konvensional, teknik ini mampu memberikan hasil yang lebih relevan, efisien, dan berorientasi pada data. Berikut beberapa keunggulan utamanya:

1. Iklan Lebih Relevan dan Tepat Sasaran

Dengan memanfaatkan data perilaku pengguna, bisnis dapat menampilkan iklan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan audiens. Misalnya, pengguna yang sering mencari “kamera mirrorless” akan menerima iklan produk fotografi, bukan barang acak yang tidak menarik perhatiannya. Hasilnya, peluang klik dan pembelian meningkat signifikan.

2. Meningkatkan Conversion Rate

Karena pesan yang disampaikan lebih personal, audiens lebih mungkin melakukan tindakan yang diinginkan, seperti membeli produk, berlangganan newsletter, atau mengisi formulir. Data menunjukkan bahwa campaign berbasis perilaku memiliki konversi 2–3 kali lebih tinggi dibanding strategi campaign berbasis demografi semata.

3. Efisiensi Anggaran Iklan

Behavioral targeting adalah strategi yang membantu bisnis menghemat biaya iklan dengan menargetkan pengguna yang benar-benar berpotensi. Tidak ada lagi pemborosan untuk audiens yang tidak relevan. Setiap impresi, klik, dan konversi menjadi lebih bermakna karena diarahkan pada segmen yang memiliki ketertarikan nyata terhadap produk.

4. Peningkatan Loyalitas dan Pengalaman Pengguna

Ketika pelanggan merasa dipahami dan dilayani sesuai kebutuhan mereka, tingkat kepuasan meningkat. Pengalaman yang personal membuat pengguna lebih betah berinteraksi dengan merek, sehingga memperkuat loyalitas jangka panjang.

5. Penentuan Strategi Bisnis Jadi Lebih Akurat

Data yang dikumpulkan dari behavioral targeting adalah aset yang dapat digunakan untuk merancang strategi pemasaran produk jangka panjang. Bisnis dapat memahami kapan pelanggan aktif, produk apa yang paling menarik, dan pola pembelian yang bisa diprediksi.

Contoh Behavioral Targeting dalam Praktik

Berikut beberapa contoh umum yang menunjukkan bagaimana strategi behavioral targeting digunakan secara efektif oleh berbagai brand dan platform digital:

1. Contoh Berdasarkan Life Events & Kebutuhan

Peristiwa penting dalam hidup seringkali mengubah kebutuhan dan kebiasaan seseorang, dan di sinilah behavioral targeting memainkan peran penting. Contohnya, seseorang baru saja menjadi orang tua akan sering mencari perlengkapan bayi, stroller, atau susu formula.  Sistem programmatic ads seperti Google Ads atau Meta Ads akan mengenali pola pencarian ini dan menampilkan iklan produk bayi di berbagai platform yang mereka gunakan. 

Begitu juga dengan seseorang yang baru pindah rumah (recent mover), mereka mungkin akan melihat iklan furnitur, jasa pindahan, hingga asuransi rumah. Dengan memahami “life events” seperti ini, brand bisa menampilkan iklan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan aktual audiens.

2. Contoh Berdasarkan Perilaku Online

Ini adalah bentuk behavioral targeting yang paling umum digunakan di bisnis online e-commerce maupun marketplace. Misalnya, kamu mengunjungi toko online dan melihat-lihat sepatu olahraga tanpa membeli. Beberapa jam kemudian, kamu melihat iklan sepatu serupa muncul di Instagram atau YouTube. 

Hal ini terjadi karena sistem mencatat riwayat perilaku kamu. Mulai dari produk yang diklik, durasi kunjungan, hingga item yang dimasukkan ke keranjang, llalu menggunakannya untuk menampilkan iklan remarketing.

3. Contoh Menggunakan Data Segmen

Behavioral targeting juga dapat dilakukan dengan menggabungkan data perilaku dari berbagai sumber untuk membuat segmen audiens yang lebih luas. Contohnya, seseorang yang sering mengunjungi situs tentang kebugaran, membaca artikel diet, dan menonton video olahraga akan dikelompokkan dalam segmen “healthy lifestyle enthusiast.” 

Brand suplemen atau gym kemudian dapat menargetkan iklan mereka kepada kelompok ini. Pendekatan berbasis minat dan gaya hidup ini memungkinkan brand membangun komunikasi yang lebih natural dan terasa relevan bagi audiens, bukan sekadar menjual produk, tetapi juga menawarkan nilai yang sesuai dengan passion dan rutinitas mereka.

Cara Menentukan Strategi Behavioral Targeting yang Efektif

Berikut adalah langkah strategis untuk menentukan behavioral targeting yang efektif:

1. Tentukan Tujuan Pemasaran yang Spesifik

Langkah pertama adalah menetapkan tujuan yang jelas, apakah ingin meningkatkan penjualan, memperkuat loyalitas pelanggan, atau menurunkan cart abandonment rate. Tujuan ini akan menentukan jenis data yang dikumpulkan serta segmentasi perilaku yang paling relevan. Misalnya, jika tujuannya meningkatkan konversi, maka data klik dan waktu kunjungan halaman produk menjadi indikator penting.

2. Kumpulkan Data Perilaku Audiens

Kunci dari behavioral targeting ada pada kualitas datanya. Gunakan berbagai sumber seperti cookies, pixel tracking, CRM, dan analitik web untuk memahami pola perilaku pengguna. Namun, penting untuk selalu memperhatikan aspek privasi dan kepatuhan terhadap regulasi seperti GDPR atau UU PDP di Indonesia. Transparansi sangat penting, jadi pastikan pengguna tahu bagaimana data mereka digunakan dan berikan opsi untuk mengatur preferensi privasi.

3. Segmentasikan Audiens Berdasarkan Perilaku

Setelah data terkumpul, tahapan behavioral targeting berikutnya adalah melakukan segmentasi berdasarkan perilaku spesifik, bukan hanya karakteristik umum. Misalnya:

  • Pengguna yang sering melihat produk tapi tidak membeli (window shoppers)
  • Pelanggan yang sering melakukan pembelian berulang
  • Pengguna yang aktif di jam tertentu atau kategori tertentu

Dengan segmentasi berbasis perilaku, pesan marketing jadi bisa disesuaikan untuk tiap kelompok dengan lebih presisi.

4. Personalisasi Pesan dan Konten Iklan

Personalisasi adalah inti dari behavioral targeting. Gunakan data perilaku untuk membuat pesan yang terasa relevan dan personal. Misalnya, tawarkan diskon eksklusif bagi pengguna yang meninggalkan keranjang belanja, atau kirim rekomendasi produk berdasarkan riwayat pencarian mereka. Iklan yang berbicara langsung pada kebutuhan audiens akan menciptakan rasa keterlibatan yang lebih tinggi.

5. Uji dan Optimalkan Secara Berkelanjutan

Tidak ada strategi yang sempurna sejak awal. Gunakan A/B testing untuk membandingkan performa berbagai versi iklan atau pesan yang ditargetkan. Lihat mana yang paling efektif meningkatkan click-through rate, konversi, dan engagement rate. Gunakan juga behavioral analytics tools seperti Google Analytics, Hotjar, atau Mixpanel untuk memahami bagaimana pengguna berinteraksi setelah melihat iklan.

6. Integrasikan dengan Strategi Marketing Lain

Behavioral targeting akan lebih kuat bila dikombinasikan dengan strategi mix promotion lain seperti email marketing, content marketing, dan social media advertising. Misalnya, pengguna yang pernah melihat artikel blog tentang “digital marketing” bisa menjadi target ideal untuk iklan kursus atau e-book terkait topik tersebut.

Tantangan dalam Strategi Behavioral Targeting

Meski menawarkan banyak keuntungan, behavioral targeting bukan tanpa tantangan. Implementasinya membutuhkan keseimbangan antara efektivitas pemasaran dan kepercayaan pengguna. Berikut beberapa kendala utama yang sering dihadapi bisnis digital saat menerapkan strategi ini:

1. Isu Privasi dan Regulasi Data

Salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan strategi behavioral targeting adalah meningkatnya kekhawatiran pengguna terhadap pelacakan data pribadi. Regulasi seperti GDPR di Eropa dan UU PDP di Indonesia mengharuskan bisnis lebih transparan dalam mengumpulkan serta menggunakan data perilaku pengguna. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, pelanggaran privasi dapat merusak reputasi merek dan menimbulkan konsekuensi hukum yang serius.

2. Kualitas dan Akurasi Data

Keberhasilan behavioral targeting sangat bergantung pada kualitas data. Sayangnya, tidak semua data yang dikumpulkan valid atau akurat. Misalnya, pengguna bisa menggunakan perangkat berbeda, mode incognito, atau memblokir cookies, yang membuat data perilaku menjadi terfragmentasi. Akibatnya, segmentasi audiens bisa salah sasaran dan menurunkan efektivitas kampanye.

3. Over-Personalization (Terlalu Personal)

Meskipun personalisasi penting, terlalu banyak menyesuaikan iklan bisa membuat pengguna merasa “diawasi.” Ketika pesan terasa terlalu spesifik, audiens justru merasa tidak nyaman. Tantangannya adalah menemukan batas antara relevan dan invasif, menjaga keseimbangan agar personalisasi tetap terasa natural.

4. Ketergantungan pada Teknologi dan Algoritma

Strategi ini membutuhkan sistem analitik dan algoritma yang kompleks. Ketika sistem gagal memproses data dengan benar, hasilnya bisa bias atau tidak akurat. Oleh karena itu, pemantauan dan pembaruan rutin pada sistem analitik menjadi hal wajib.

Kesimpulan

Behavioral targeting adalah strategi penting dalam digital marketing modern yang membantu bisnis memahami perilaku pelanggan dan menampilkan iklan yang benar-benar relevan. Dengan memanfaatkan data perilaku secara etis, brand pun dapat meningkatkan konversi penjualan tanpa harus banyak membuang anggaran.

Namun, keberhasilan strategi ini juga bergantung pada pondasi digital yang kuat termasuk kepemilikan domain. Jika kamu ingin membangun bisnis online yang kredibel dan mudah ditemukan, pastikan beli domain terbaik di RNA. Kami siap membantu kamu mendapatkan nama domain yang sesuai identitas bisnismu, sehingga strategi pemasaran digitalmu bisa berjalan maksimal.

Rate this Article

About Author

Hiqbal Fauzi

As SEO Specialist at Deneva with a bachelor's in animal husbandry, passionate about digital marketing, especially in SEO.

daftar reseller

This will close in 0 seconds