Persaingan pasar di era digitalisasi semakin brutal. Banyak bisnis sebenarnya punya produk bagus, tapi tenggelam karena tidak punya identitas yang jelas di mata pelanggan. Mereka hadir, tapi tidak menonjol. Ada, tapi tidak diingat. Produk serupa beredar luas di pasar, akan tetapi konsumen tidak tahu apa yang menjadi pembeda utama dari produk-produk tersebut.
Alhasil, biaya marketing pun membengkak, namun omset justru merosot anjlok. Untuk mengatasi situasi ini bisnis harus memiliki positioning yang strategis di pasar, sehingga produknya bisa dipilih pelanggan dan laris terjual.
Kalau kamu penasaran tentang strategi positioning, RNA siap memberimu insight yang mendalam. Untuk memahami lebih jauh, mari bahas terlebih dahulu apa itu positioning bisnis dan mengapa konsep ini sangat penting dalam persaingan pasar di era digital!
Apa itu Positioning?

Positioning bisnis adalah proses menempatkan identitas dan nilai brand secara strategis di benak pelanggan. Tujuannya untuk memastikan pelanggan memahami siapa kamu, apa nilai unik yang kamu tawarkan, dan alasan mereka harus memilihmu dibanding brand lain.
Singkatnya, positioning adalah persepsi yang muncul setiap kali pelanggan mendengar nama brand kamu. Dalam pemasaran digital, positioning berfungsi sebagai kompas. Ia membantu bisnis memilih target audiens yang tepat, menentukan cara komunikasi, serta membangun diferensiasi yang relevan.
Selain itu, positioning juga berperan besar dalam meningkatkan brand recall, memperkuat pengalaman pelanggan, dan mempertahankan loyalitas jangka panjang. Dengan positioning yang kuat, bisnis punya fondasi kokoh untuk bertumbuh, beradaptasi, dan bersaing di pasar yang terus berubah.
Apa Manfaat dari Positioning Bisnis?
Positioning bisnis bukan hanya soal bagaimana sebuah brand terlihat, tetapi bagaimana ia tertanam dalam persepsi pelanggan. Semakin tepat positioning suatu bisnis, semakin besar peluangnya untuk menang di pasar yang kompetitif. Berikut adalah beberapa manfaat jika bisnis telah memiliki positioning yang strategis:
1. Meningkatkan Brand Awareness
Positioning yang kuat membuat brand lebih mudah dikenali dan diingat. Ketika pelanggan melihat kategori produk tertentu, nama brand yang punya positioning jelas akan muncul lebih dulu di kepala mereka. Brand awareness ini terbentuk dari konsistensi pesan, visual, dan narasi yang terus membangun tempat khusus di benak konsumen.
2. Mempercepat Keputusan Pembelian
Pelanggan cenderung memilih brand yang sudah familiar dan punya citra tertentu. Dalam hal ini, positioning akan membantu mereka memahami nilai utama produk tanpa perlu berpikir panjang. Semakin jelas positioning-mu, semakin cepat pelanggan mengambil keputusan, yang tentu berdampak langsung pada konversi penjualan.
3. Memenangkan Persaingan di Pasar
Di pasar penuh dengan produk yang serupa, dan positioning adalah senjata untuk diferensiasi. Bisnis yang punya positioning solid tidak perlu terjebak perang harga. Mereka bersaing lewat nilai, citra, dan pengalaman yang melekat. Bahkan dengan produk yang mirip, brand dengan positioning tajam dan strategis akan tetap lebih unggul.
4. Memperjelas Target Audience
Positioning membantu bisnis menentukan siapa yang ingin disasar. Dari sini, seluruh strategi pemasaran produk mulai dari pesan marketing, konten, sampai channel distribusinya, jadi lebih terarah ke audiens yang memang berpotensi melakukan untuk pembelian. Hasilnya, campaign marketing jadi lebih terstruktur dan efektif.
5. Meningkatkan Efektivitas Iklan & Konten
Konten dan iklan yang dibangun di atas positioning yang jelas akan lebih fokus dan relevan. Tidak ada pesan yang melebar ke mana-mana. Setiap materi marketing berbicara ke satu identitas brand yang sama. Hasilnya, biaya iklan lebih efisien dan engagement lebih tinggi.
6. Menciptakan Loyalitas Pelanggan
Pelanggan bertahan bukan hanya karena produk bagus, tetapi karena persepsi dan pengalaman emosional terhadap brand. Positioning yang tepat membangun hubungan jangka panjang, sehingga pelanggan merasa cocok secara nilai dan identitas. Ini yang membuat mereka bertahan, bahkan merekomendasikan brand ke orang lain.
7. Menguatkan Value Proposition
Setiap brand punya nilai unik, tetapi positioning-lah yang memperjelas nilai tersebut di mata pelanggan. Dengan positioning yang konsisten, value proposition tidak hanya terdengar di materi promosi, tapi juga dirasakan dalam pengalaman nyata pelanggan. Ini memberi pondasi kuat bagi pertumbuhan dan reputasi brand dalam jangka panjang.
Jenis-Jenis Positioning

Positioning bukan konsep tunggal. Ia terbagi menjadi beberapa pendekatan yang dapat disesuaikan dengan karakter bisnis, target market, dan strategi kompetitif. Tiga jenis positioning berikut adalah fondasi yang paling sering digunakan untuk membangun identitas brand yang kuat:
1. Brand Positioning
Brand positioning berfokus pada bagaimana sebuah brand ingin dilihat dan dipersepsikan oleh pelanggan. Ini mencakup nilai, janji, kepribadian, dan pengalaman yang ditawarkan brand. Intinya, brand positioning menjawab satu pertanyaan besar: “Kenapa pelanggan harus memilih brand ini dibandingkan brand lain?”
Contohnya, Apple diposisikan sebagai brand premium dengan inovasi dan desain elegan. Sementara IKEA memposisikan dirinya sebagai brand furniture terjangkau dengan desain minimalis dan mudah dirakit. Kekuatan brand positioning terletak pada konsistensi dan kemampuan menciptakan emosi tertentu di benak pelanggan.
2. Product Positioning
Product positioning menitikberatkan pada bagaimana sebuah produk dibandingkan dengan kompetitor berdasarkan fitur, kualitas, harga, atau manfaat spesifik. Pendekatan ini cocok untuk bisnis yang memiliki banyak lini produk atau kategori yang padat persaingan.
Misalnya, smartphone dengan kamera terbaik, laptop ultrabook paling ringan, atau skincare yang diformulasikan khusus untuk kulit sensitif. Fokusnya bukan lagi pada brand sebagai keseluruhan, melainkan pada apa yang membuat suatu produk unggul dan relevan untuk segmen tertentu.
3. Market Positioning
Market positioning adalah jenis yang berorientasi pada tempat sebuah brand atau produk dalam lanskap industri. Ini bisa berdasarkan segmen harga (premium vs ekonomis), kategori pasar, atau celah tertentu yang belum banyak digarap. Tujuannya adalah mengambil ruang kompetitif yang paling strategis untuk pertumbuhan jangka panjang.
Contohnya, Grab memposisikan diri sebagai aplikasi kebutuhan harian, bukan hanya layanan transportasi. Sementara brand D2C (direct-to-consumer) banyak mengambil posisi sebagai alternatif yang lebih transparan, cepat, dan customer-centric dibandingkan pemain tradisional. Market positioning membantu bisnis memetakan strategi masuk pasar dan membangun tempat yang unik di dalamnya.
Contoh Positioning dari Berbagai Industri
Berikut beberapa contoh positioning yang sering dijumpai di berbagai sektor bisnis:
- Apple — Premium & Inovatif: Fokus pada teknologi elegan dengan pengalaman eksklusif.
- Toyota — Andal & Tahan Lama: Diposisikan sebagai mobil keluarga yang irit dan awet.
- Starbucks — “Third Place”: Tempat nongkrong nyaman dengan pengalaman personalisasi minuman.
- Nike — Empowerment Atlet: Mengangkat identitas “Just Do It” untuk semua level atlet.
- IKEA — Affordable & Practical Design: Furniture minimalis dengan harga terjangkau.
- Gojek — Solusi Kebutuhan Harian: Bukan sekadar transportasi, tapi ekosistem layanan.
Contoh di atas menunjukkan bagaimana positioning dapat membedakan brand bahkan di pasar yang sangat padat.
Strategi Positioning Bisnis yang Efektif

Positioning lahir dari strategi yang terstruktur, konsisten, dan relevan dengan kebutuhan target pasar. Berikut adalah strategi positioning bisnis yang paling efektif untuk membangun persepsi brand yang solid dan kompetitif:
1. Pahami Audiens secara Mendalam
Pondasi positioning selalu dimulai dari memahami siapa audiensmu. Kamu perlu tahu apa motivasi mereka, masalah yang mereka hadapi, apa yang mereka anggap berharga, hingga bagaimana mereka membuat keputusan. Ketika insight audiens jelas, pesan positioning bisa lebih tajam dan langsung menyasar kebutuhan emosional maupun rasional mereka.
2. Lakukan Analisis Kompetitor
Bisnis yang asal bicara “lebih baik” dari kompetitor sering jatuh ke jebakan generik. Analisis kompetitor diperlukan untuk melihat celah di pasar, kelebihan dan kelemahan kompetitor, serta bagaimana mereka memposisikan diri. Dari sini, kamu bisa menentukan ruang unik yang benar-benar membedakan brand-mu.
3. Tentukan Keunggulan Kompetitif (Unique Selling Point)
USP adalah inti dari positioning. Pertanyaannya sederhana: apa yang bisnis kamu tawarkan yang sulit ditiru atau tidak dimiliki kompetitor? Keunggulan ini bisa berupa inovasi produk, kualitas layanan, proses bisnis, personalisasi, hingga identitas brand. Tanpa USP, positioning akan terlihat kabur dan mudah dilupakan.
4. Bangun Value yang Konsisten
Value adalah janji nilai yang kamu tawarkan ke pelanggan. Saat value proposition konsisten dan relevan, pelanggan lebih mudah memahami apa peran brand-mu dalam hidup mereka. Ini membantu menciptakan persepsi yang kuat dan stabil di kepala pelanggan. Brand tanpa konsistensi akan kehilangan arah dan sulit membangun loyalitas.
5. Rancang Pesan yang Mudah Diingat
Sebuah positioning tidak akan efektif jika tidak dikomunikasikan dengan jelas. Core message sebaiknya singkat, tajam, dan merepresentasikan nilai unik brand. Contohnya, “paling cepat”, “paling aman”, “paling simpel”, atau “premium dengan harga terjangkau”. Pesan ini menjadi dasar dari semua komunikasi di iklan, konten, website, dan media sosial.
6. Sesuaikan Visual dan Identitas Brand
Positioning bukan hanya kata-kata, tetapi bagaimana brand muncul secara visual. Logo, warna, tipografi, gaya konten, hingga tone of voice harus mendukung pesan positioning. Jika positioning-mu “premium”, visual harus elegan. Jika “ramah pemula”, visual harus simpel dan mudah dipahami. Visual adalah pemicu persepsi paling cepat.
7. Optimalkan Customer Experience
CX adalah pembuktian positioning. Kamu tidak bisa memposisikan diri sebagai brand yang “mudah digunakan” jika website-mu lambat dan rumit. Kamu tidak bisa menjadi brand yang “peduli pelanggan” jika dukungan pelanggan sulit dihubungi. Pengalaman harus sejalan dengan pesan positioning agar persepsi terbentuk secara konsisten.
8. Gunakan Storytelling untuk Memperkuat Emosi
Cerita yang tepat dapat memperkuat positioning dengan cepat. Storytelling membantu pelanggan memahami nilai brand-mu pada level emosional. Cerita tentang proses pembuatan produk, inspirasi brand, atau perjalanan menyelesaikan masalah pelanggan dapat membangun koneksi yang lebih dalam.
9. Uji & Perbaiki Secara Berkala
Pasar berubah, begitu pula perilaku pelanggan. Positioning harus fleksibel dan diuji secara berkala. Mulai dari feedback pelanggan, performa kampanye, hingga perbandingan dengan kompetitor. Jika ada perubahan signifikan di pasar, positioning perlu disesuaikan tanpa menghilangkan identitas inti.
Kesimpulan
Positioning bisnis adalah fondasi yang menentukan bagaimana sebuah brand dipersepsikan, diingat, dan dipilih oleh pelanggan. Tanpa positioning yang jelas, bisnis mudah tenggelam dalam kompetisi, meski produknya sebenarnya berkualitas.Saat bisnis ingin tampil menonjol di pasar digital, langkah pertama yang tidak boleh dilewatkan adalah membangun identitas online yang solid, dan itu dimulai dari domain. Untuk memastikan brand-mu memiliki tempat yang kredibel dan profesional, pastikan beli nama domain yang tepat hanya di RNA. RNA adalah platform reseller domain terpercaya untuk semua kebutuhan branding bisnismu.

