No ratings yet.

Data Center adalah infrastruktur vital, berfungsi sebagai jantung operasional bagi hampir semua bisnis—mulai dari startup hingga perusahaan multinasional. Keandalan data center secara langsung menentukan kelangsungan bisnis Anda. Kegagalan sistem atau downtime singkat dapat berarti hilangnya jutaan rupiah, reputasi yang rusak, bahkan kerugian fatal bagi layanan publik.

Oleh karena itu, sangat penting bagi perusahaan untuk dapat menilai kualitas, keandalan, dan ketersediaan layanan dari sebuah data center secara objektif. Bagaimana kita bisa membandingkan Data Center A dengan Data Center B secara adil? Jawabannya terletak pada sistem klasifikasi baku yang dikenal sebagai Tier Data Center.

Kali ini RNA akan mengupas tuntas sistem Tier, standar yang menjadi acuan global, serta memberikan penjelasan mendalam mengenai perbedaan mendasar antara Data Center Tier 1, Tier 2, Tier 3, hingga Tier 4.

Apa Itu Tier Data Center?

Sistem Tier Data Center adalah metode standar global yang dikembangkan oleh Uptime Institute. Standar ini tidak hanya mengukur fitur fisik sebuah fasilitas, tetapi juga kemampuan operasionalnya, terutama terkait ketersediaan layanan (uptime) dan tingkat redundansi (sistem cadangan) yang dimiliki. Sistem Tier ini didasarkan pada tiga kriteria utama yang menentukan seberapa andal sebuah data center:

  1. Redundansi Komponen: Keberadaan komponen cadangan (spareparts) seperti UPS, generator, atau chiller untuk menggantikan komponen utama yang gagal.
  2. Jalur Distribusi: Apakah terdapat jalur distribusi daya dan pendingin tunggal atau ganda yang terpisah.
  3. Jaminan Uptime Tahunan: Metrik ketersediaan yang diterjemahkan menjadi batas waktu henti (downtime) maksimum yang diizinkan per tahun.

Standar ini memastikan bahwa ketika Anda memilih data center Tier # misalnya, Anda mendapatkan tingkat keandalan dan waktu operasi yang sama, terlepas dari lokasi data center tersebut.

Penjelasan Lengkap Lever Tier Data Center

Klasifikasi Tier Data Center dibagi menjadi empat tingkatan, dengan Tier 1 sebagai yang paling dasar dan Tier 4 sebagai yang paling kompleks dan toleran terhadap kegagalan.

Tier 1: Kapasitas Dasar

Tier 1 mewakili struktur data center paling dasar. Fasilitas ini dicirikan oleh jalur tunggal untuk daya dan pendinginan (Single Path), serta tidak adanya redundansi pada komponen utamanya (konfigurasi N). Artinya, tidak ada sistem cadangan yang tersedia untuk menanggulangi kegagalan peralatan. Jika terjadi pemadaman listrik atau kegagalan sistem pendingin, layanan akan terhenti. Data center Tier 1 menjanjikan uptime tahunan sebesar 99.671%, yang setara dengan batas maksimum downtime tahunan selama 28.8 jam. Tier ini cocok untuk lingkungan kecil, kantor cabang, atau operasi yang sifatnya non-kritis dan dapat menoleransi waktu henti yang signifikan.

Tier 2: Kapasitas Komponen Redundan

Data center Tier 2 menawarkan peningkatan keandalan dari Tier 1 dengan menerapkan redundansi pada komponen penting. Fasilitas ini beroperasi dengan konfigurasi N+1, yang berarti setiap komponen kritis (seperti UPS atau chiller) memiliki setidaknya satu unit cadangan. Meskipun memiliki komponen redundan, Tier 2 masih mengandalkan jalur distribusi tunggal. Perawatan atau perbaikan pada jalur distribusi ini tetap memerlukan pemadaman layanan, meski komponennya sendiri terlindungi dari kegagalan. Tingkat ketersediaan Tier 2 adalah 99.741%, dengan downtime tahunan maksimal 22 jam.

Tier 3: Dapat Dipelihara Bersamaan

Tier 3 adalah titik awal bagi sebagian besar perusahaan besar dan penyedia layanan cloud. Karakteristik utamanya adalah fasilitas ini Dapat Dipelihara Bersamaan (Concurrently Maintainable). Ini berarti setiap komponen daya dan pendinginan memiliki redundansi (N+1), dan yang paling krusial, terdapat jalur distribusi ganda yang independen. Teknisi dapat melakukan perawatan terjadwal atau perbaikan pada salah satu jalur distribusi tanpa harus mematikan operasi layanan. Tier 3 menjamin uptime sebesar 99.982%, dengan downtime tahunan yang sangat minim, yaitu hanya 1.6 jam.

Tier 4: Toleransi Kesalahan

Tier 4 mewakili tingkat keandalan tertinggi dalam standar Uptime Institute. Fasilitas ini dirancang sebagai sistem yang Toleran Kesalahan (Fault Tolerant). Tidak hanya memiliki jalur distribusi ganda, tetapi semua komponen utama dan jalur tersebut sepenuhnya independen dan terisolasi (konfigurasi 2N atau 2N+1). Data center Tier 4 dapat menahan kegagalan tunggal terburuk di lokasi manapun tanpa menyebabkan gangguan layanan. Jaminan uptime-nya mencapai 99.995%, membatasi downtime tahunan hanya hingga 26.3 menit. Fasilitas ini biasanya digunakan oleh lembaga finansial, layanan darurat, atau operasi global yang sama sekali tidak dapat mentoleransi waktu henti.

Komponen Kunci dalam Redundansi Tier

Redundansi adalah jantung dari sistem Tier. Peningkatan level Toer menunjukkan peningkatan pada jumlah komponen cadangan dan kompleksitas jalur distribusi. Komponen yang selalu menjadi fokus dalam penilaian Tier meliputi:

Sistem Daya

Meliputi UPS (Uninterruptible Power Supply) untuk mengatasi lonjakan listrik singkat dan Generator Cadangan diesel untuk pasokan listrik jangka panjang saat terjadi pemadaman dari PLN. Redundansi memastikan selalu ada daya bersih yang stabil.

Sistem Pendingin

Suhu yang ideal sangat penting. Redundansi berlaku untuk Unit AC Presisi (CRAC/CRAH) dan sistem chiller atau distribusi udara, mencegah overheating yang dapat merusak server secara permanen.

Konektivitas dan Jaringan

Keandalan juga mencakup jalur jaringan. Data center Tier 3 dan 4 umumnya memiliki koneksi serat optik dari dua penyedia layanan internet (ISP) yang berbeda atau lebih, melalui jalur fisik yang berbeda, untuk mencegah pemutusan total akibat kerusakan kabel tunggal.

Memilih Tier Data Center yang Tepat

Keputusan untuk memilih Tier Data Center harus didasarkan pada analisis business impact dan return of investment (ROI), bukan sekedar memilih Tier tertinggi.

Pertimbangan Biaya

Pembangunan dan operasi Tier 4 jauh lebih mahal daripada Tier 2. Biaya ini akan dibebankan kepada pelanggan. Pertimbangkan apakah tambahan 20 jam uptime (perbedaan antara Tier 2 dan Tier 3) sebanding dengan biaya yang harus Anda keluarkan.

Toleransi Risiko Bisnis

Bagi bank besar yang kehilangan miliaran per menit downtime, Tier 4 adalah suatu keharusan. Namun, bagi situs blog non transaksional, downtime 22 jam setahun mungkin dapat ditoleransi, menjadikan Tier 2 pilihan yang efisien.

Persyaratan Regulasi

Industri tertentu, seperti perbankan, kesehatan, atau layanan pemerintah, seringkali memiliki persyaratan ketat yang secara tidak langsung menuntut penggunaan minimal Tier 3 atau bahkan Tier 4 untuk mematuhi regulasi ketersediaan data.

Kesimpulan

Memahami standar Tier Data Center yang dikeluarkan oleh Uptime Institute adalah langkah pertama yang cerdas dalam merencanakan infrastruktur IT Anda. Tier 1 adalah yang paling mendasar, sementara Tier 4 menawarkan ketersediaan data yang hampir sempurna. Pilihan Anda harus selalu didasarkan pada keseimbangan optimal antara biaya operasional, toleransi risiko bisnis, dan kebutuhan regulasi.

Setelah Anda memilih Data Center yang tepat untuk menjalankan aplikasi Anda, langkah selanjutnya adalah mengamankan aset digital pertama Anda: nama domain. Data center yang andal memerlukan alamat yang profesional. Jangan ragu untuk memilih dan mendaftarkan nama domain terbaik untuk bisnis Anda. Kunjungi RNA hari ini untuk mendapatkan layanan reseller domain yang cepat dan terpercaya, memastikan fondasi digital Anda sekokoh data center Tier 4.

Rate this Article

About Author

Hiqbal Fauzi

As SEO Specialist at Deneva with a bachelor's in animal husbandry, passionate about digital marketing, especially in SEO.

daftar reseller

This will close in 0 seconds